Dilema BBM


Lagi-lagi pemerintah (SBY-JK) memberikan “kado” istimewa bagi masyarakat dan pengusaha di tahun 2008 ini. Kado itu adalah kenaikan harga bahan bakar minyak, tak pelak bawang merah, cabe ikut-ikutan naik. Melambungnya sejumlah bahan pokok akibat tersulut kenaikan harga BBM. Pemerintahan SBY-JK mengemukakan alasan bahwa itu bagian dari pencabutan subsidi, dalih lain lantaran melambungnya harga minyak mentah di pasaran dunia. Kendati demikian, pemerintah akan menyiapkan dana kompensasi BLT (mengalihkan pikiran rakyat agar tidak stress).

Buruh, ribuan mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, sopir angkutan umum, organisasi massa, hingga kalangan intelektual (mahasiswa) turun ke jalan-jalan, Satu tujuan mereka: pemerintah kembali menurunkan harga BBM, tak lebih.

Ingat pasal 33ayat 3. Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat). . Dengan kata lain, kebijakan pemerintah harus sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 yang mengandung butir keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat dan tak ada alasan lagi untuk menaikkan harga BBM

Dampak kenaikan BBM sekarang ini lebih merugikan masyarakat kelas bawah. Jadi, masyarakat kelas bawah akan dengan sendirinya turun ke jalan karena termotivasi oleh dorongan rasa lapar mereka
skandal BBM
Mixil Mina Munir, aktivis 1998 dari Forum Kota (Forkot), mengatakan ada dua hal yang menentukan apakah resistensi kenaikan BBM ini mengarah pada kerusuhan seperti yang terjadi pada Mei 1998 atau tidak. Apakah elemen aktivis akan menuju kerusuhan seperti 1998. Mixil mengakui, secara organisasi dan struktur, gerakan kali ini tak sekuat 10 tahun lalu. Gerakan 1998 muncul karena selama bertahun-tahun ada penindasan sehingga aksinya muncul dari beragam kelompok.

Sehingga, gerakan aktivis pada saat sekarang tidak semassif 1998. Sedangkan muatan politisnya dari demonstrasi antara 1998 dan 2008 sama saja. Hanya pada 2008, mereka yang memikirkan politik tidak mau turun ke jalan. “Mereka konsolidasi di basis partainya saja,” katanya.

Menurut Mixil mereka yang turun ke jalan merupakan gerakan murni. Mereka menginginkan perubahan, tidak ingin BBM naik. Mereka ingin mengkritisi kebijakan SBY-JK. Mereka yang turun ke jalan tidak ada urusan dengan 2009. “Yang terpenting bagaimana nasib rakyat,” katanya.

Apakah kekerasan bisa menjadi solusi? Begitu mahal harga yang harus dibayar. Kerusakan, luka, bahkan nyawa pun terkadang jadi taruhan. Mungkin ini saatnya bercermin bagi semua pihak jalan damai menyelesaikan persoalan kenaikan harga BBM

Adapted Dari berbagai sumber


~ by kecoakmelet on July 3, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: