Anak Gunung Sokopuro


arman_-_suku_anak_dalam3Sepasang kaos tanpa lengan dan celana pramuka pendek lelaki kecil memikul sepasang bakul dipundaknya menapaki lereng pegunungan terjal, dengan kaki telanjang dia seorang kuli angkat wortel.

Tegar menghadapi pahitnya kehidupan lelaki kecil ini bernama Anang, 14 tahun, lahir di kaki gunung Bromo, Sokopuro, Probolinggo Jawa (titip) Timur. Ia ditinggal mati oleh ayahnya berumur 2 bulan dalam kandungan sang ibu dan dibesarkan ,diasuh oleh pamannya (Pak Nining) sebagai anak angkat.

Sinar mentari pagi sudah menerobos hijaunya daun alpukat, Si Anang lelaki kecil itu siap membawa kedua bakul menapaki lereng untuk pergi ke ladang wortel milik sang majikan dari kota, Bapak, ibu angkatnya, tetangga dan teman sebayanya ternyata juga berprofesi sebagai buruh tani bekerja memanen wortel diladang yang sama dengan lelaki kecil itu, Si Bapak dan Si Ibu sebagai pencabut wortel dan lelaki kecil itu mengumpulkan wortel di bakulnya dan sekuat tenaga memikulnya turuni jalan setapak yang terjal, sesekali ia istirahat untuk minum melepas dahaga.

Sejauh dua kilometer di atas bukit ia turun kebawah dan sampai di pondokan ia memilah sesuai ukuran (besar dan kecil) lalu di masukkan ke kantong ukuran 1 kuintal, dengan asumsi sehari plus istirahat ia bisa mengumpulkan 6 bakul dan rata-rata perbakul 40 kilogram jadi ia bisa mengumpulkan 240 kilogram ato 2 kwintal 40 kilo, jika ongkos 1 kilogram di hargai Rp. 125,- maka ia memperoleh upah Rp. 30.000,- plus menimbang dan mengangkat untuk di bawa ke atas mobil pik up, itupun tidak setiap hari, dan bos bisa memakai tenaganya bila waktu musim panen tiba.

Ironis sekali, ia tamatan SD pasrah, tanpa bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi maka faktor biaya lagi-lagi menjadi penghalangya dan mengenyam bangku SD alhamdullillah ia bersyukur. Dari sekian ribu penduduk di kaki bukit ini bisa di hitung dengan jari mereka yang sampai tamat SMA, dan banyak sekali yang belum genap tujuh belas tahun sudah di kawinkan sama orang tuanya, contohnya si Gunawan teman sebaya Anang, baru enam belas tahun sudah menikah dan istrinya sudah hamil tujuh bulan, nekad bener.

Mentari mulai meredup, bergegas pulalah aku turun kebawah sambil dengan bangga menenteng se kantong plastik wortel sebagai upah membantu memanen diladang meskipun acara mancing di pelabuhan jadi batal karenanya, he..he..he…alhamdulillah.

Foto diambil dari http://blogs.nimd.org

~ by anshoranshory on April 13, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: