Pelacur di Persimpangan Jalan


Dengan kulit wajah mulai keriput, gigi ompong, rambut keriting, bibir dan hidung bersalipan, gincu merah merona, perut udah buncit, memakai setelan blus dipadu celana balet warna hitam, perempuan itu seorang pelacur tengah menunggu si hidung belang.

Mbok Ijah ia biasa dipanggil oleh pengguna jasanya, 65 tahun yang lalau ia dilahirkan di Ngajuk, Jawa Timur, ia seorang janda yang sudah ditinggal suaminya, melacur bukanlah cita-cita si mbok yang biasa mangkal di Simpang Tiga Jombang, “Siapa sih yang mau hidup begini” kelakarnya.

Keseharian sehabis subuh, ia siapkan sarapan untuk cucunya sebelum berangkat ke sekolah dan sebuah rutinitas yang harus ia lakoni setelah si Nanu (6 tahun) ditinggal sang ibu mengadu nasib di negeri Jiran (TKW lewat jalur ilegal) untuk membiayai hidup si anak semata wayang, asap dapur mengepul dibarengi sinar matahari, kokok ayam dibelakang rumah sebagai awal pagi yang cerah (semoga).

Dia perempuan yang kuat, meskipun usia sudah lapuk dimakan jaman ia tegar menemani si cucu semata wayang.

Bukanlah cita-cita memilih pekerjaan itu. Toha, suaminya, memilih perempuan ini dan menikahinya, mereka bertemu di terminal bungurasih saat menunggu bus, pasangan ini menikah dan kimpoi, 5 bulan hamil suami meninggalkannnya dengan selingkuhan baru.

 

bersambung

 

 

 

 

~ by kecoakmelet on June 12, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: