Konfigurasi DNS dan Web Server pada Linux Debian 5

•October 9, 2011 • Leave a Comment

DNS (Domain Name System) adalah suatu system yang mengubah nama host (seperti linux.or.id) menjadi alamat IP (seperti 64.29.24.175) atas semua komputer yang terhubung langsung ke Internet. DNS juga dapat mengubah alamat IP menjadi nama host.

DNS bekerja secara hirarki dan berbentuk seperti pohon (tree). Bagian atas adalah Top Level Domain (TLD) seperti COM, ORG, EDU, MIL dsb. Seperti pohon DNS mempunyai cabang-cabang yang dicari dari pangkal sampai ke ujung. Pada waktu kita mencari alamat misalnya linux.or.id pertama-tama DNS bertanya pada TLD server tentang DNS Server yang melayani domain .id misalnya dijawab ns1.id, setelah itu dia bertanya pada ns1.id tentang DNS Server yang bertanggung jawab atas .or.id misalnya ns.or.id kemudian dia bertanya pada ns.or.id tentang linux.or.id dan dijawab 64.29.24.175

Sedangkan untuk mengubah IP menjadi nama host melibatkan domain in-addr.arpa. Seperti domain lainnya domain in-addr.arpa pun bercabang-cabang. Yang penting diingat adalah alamat IP-nya ditulis dalam urutan terbalik di bawah in-addr.arpa. Misalnya untuk alamat IP 64.29.24.275 prosesnya seperti contoh linux.or.id: cari server untuk arpa, cari server untuk in-addr.arpa, cari server untuk 64.in-addr.arpa, cari server 29.64.in-addr.arpa, cari server untuk 24.29.64.in-addr.arpa. Dan cari informasi untuk 275.24.29.64.in-addr.arpa. Pembalikan urutan angkanya memang bisa membingungkan.

 

Selanjutnya bisa didownload disini

Sesuatu adalah wajar

•July 4, 2011 • Leave a Comment

Manusia manakah yang tahu akan ketentuan nasibnya? Siapakah yang mengerti akan rahasia besar nasib manusia yang hanya dipegang dan ditentukan oleh Tangan Tuhan Yang Maha Kuasa sendiri? Bukti kekuasaan Tuhan memang kadang-kadang amat aneh, ganjil, dan sukar dimengerti. Kadang-kadang bahkan nampak tidak adil! Misalnya, seorang yang berwatak jahat hidup dalam keadaan senang dan makmur, sebaliknya seorang yang berwatak baik hidup sengsara. Ada pula seorang yang hidupnya penuh dosa selalu sehat, sebaliknya orang yang hidup saleh bahkan menderita penyakit berat. Terlontarlah kata-kata “tidak adil” dari mulut mereka yang masih belum kuat iman dan kepercayaannya terhadap Tuhan dan kekuasaannya. Akan tetapi tidak demikian sikap orang budiman, atau seorang yang memang menaruh kepercayaan akan keadilan Tuhan secara mutlak.

Dia ini bahkan akan menerima segala apa yang oleh manusia dianggap “sengsara” atau “menderita” dengan hati tenang dan penuh penyerahan sebulatnya kepada Yang Maha Kuasa, menerima lahir batin dengan penuh kepercayaan dan keyakinan bahwa segala apa yang menimpa dirinya itu adalah kehendak Tuhan yang tak dapat diubah pula oleh siapapun juga, dan bahwa di balik semua hal yang menimpa dirinya itu terdapat sesuatu yang adil dan baik. Bahagialah orang yang menerima kemalangan sebagai orang menghadapi ujian, tahan uji, kuat dan akhirnya lulus! Kasihan mereka yang lemah hati, yang tidak kuat menghadapi kemalangan, sehingga kepercayaan menjadi luntur, watak yang baik menjadi buruk, dan kemalangan menyeretnya ke dalam penyelewengan yang akan menghancurkan hidupnya sendiri!

[ Dikutip dari cersil: Ang I-Niocu / Dara Berbaju Merah ]

Pelacur di Persimpangan Jalan

•June 12, 2011 • Leave a Comment

Dengan kulit wajah mulai keriput, gigi ompong, rambut keriting, bibir dan hidung bersalipan, gincu merah merona, perut udah buncit, memakai setelan blus dipadu celana balet warna hitam, perempuan itu seorang pelacur tengah menunggu si hidung belang.

Mbok Ijah ia biasa dipanggil oleh pengguna jasanya, 65 tahun yang lalau ia dilahirkan di Ngajuk, Jawa Timur, ia seorang janda yang sudah ditinggal suaminya, melacur bukanlah cita-cita si mbok yang biasa mangkal di Simpang Tiga Jombang, “Siapa sih yang mau hidup begini” kelakarnya.

Keseharian sehabis subuh, ia siapkan sarapan untuk cucunya sebelum berangkat ke sekolah dan sebuah rutinitas yang harus ia lakoni setelah si Nanu (6 tahun) ditinggal sang ibu mengadu nasib di negeri Jiran (TKW lewat jalur ilegal) untuk membiayai hidup si anak semata wayang, asap dapur mengepul dibarengi sinar matahari, kokok ayam dibelakang rumah sebagai awal pagi yang cerah (semoga).

Dia perempuan yang kuat, meskipun usia sudah lapuk dimakan jaman ia tegar menemani si cucu semata wayang.

Bukanlah cita-cita memilih pekerjaan itu. Toha, suaminya, memilih perempuan ini dan menikahinya, mereka bertemu di terminal bungurasih saat menunggu bus, pasangan ini menikah dan kimpoi, 5 bulan hamil suami meninggalkannnya dengan selingkuhan baru.

 

bersambung

 

 

 

 

Karl Marx – Mengenal Materialis dialektika historis

•June 7, 2011 • Leave a Comment

Materialisme adalah pandangan khusus seseorang terhadap alam, manusia dan kehidupan yang dibangun diatas landasan materi. Pandangan ini menjelaskan bahwa segala apa yang ada dialam ini berasal dari satu sumber yaitu materi. Dan setiap pergerakan yang terjadi di alam ini diatur melalui hukum materi. Selain itu, pandangan ini juga dibangun diatas landasan adanya (kontradiksi) diantara materi sangat berbanding terbalik dengan Hegel.

Secara bahasa Dialektika berasal dari bahasa Yunani ‘dialogos’ yang artinya ‘percakapan’ dan ‘perdebatan’. Sedangkan menurut istilah artinya cara pandang seseorang agar sampai pada hakekat sesuatu dengan mengambil nilai-nilai kontradiksi terhadap lawan, hingga mampu menglahkannya. Materialisme historis adalah suatu proses intepretasi sejarah manusia dengan dasar materi. Sederhananya disini Marx menganggap sejarah manusia sebagai materi yang memuat berbagai kontradiksi dan berjalan sesuai dengan hukum materi. Sehingga kalau kita pelajari lebih dalam lagi maka kita akan sampai pada satu kesimpulan bahwa teori materialisme historisnya Marx sangat terpengaruh oleh teori evolusinya Darwin yang mengatakan ‘peperangan/pertentangan adalah asal dari kehidupan’. Teori ini dimulai dari satu kaidah bahwa produktifitas materi adalah asas kehidupan manusia dan sejarahnya. Marx memandang bahwa menjadi keharusan bagi manusia untuk menjadi pusat yang mampu menempatkannya dalam kehidupan ini, sebagaimana iua dituntut untuk mampu menciptakan sejarah. Sebagaimana diketahui bahwa hidup ini tidak lain hanya sebatas makan, minum, tempat tinggal, pakaian dan sebagainya, maka kerja sejarah adalah bagaimana mampu menciptakan sarana-sarana yang layak untuk memenuhi kebutuhan tadi.

Kongkritnya kerja menciptakan materi. Oleh karena itu, kekuatan manusia untuk mampu menciptakan materi merupakan unsur yang paling penting dalam kehidupan. Karena ia merupakan ukuran dari segala sesuatu. Dalam teori Materialisme Historis ini, Marx membagi perjalanan sejarah manusia kedalam lima fase, sebagai berikut: fase pertama, yaitu sistem hidup bersama. Fase ini adalah fase perpindahan manusia dari alam hewannya menuju tingkat sempurna. Disini manusia mulai memciptakan alat-alat kerja/berburu. Oleh kerena itu Sistem hidup bersama sangat cocok sekali pada fase ini karena ia dituntut untuk saling tolong menolong dalam menciptakan alat dan berjuang menghadapi berbagai macam gejala alam. Jadi kebersamaan mereka adalah kekuatan utama mereka untuk bisa bertahan hidup. Namun setelah manusia mengenal sisitem bercocok tanam yang menuntut manusia untuk berkelompok dan dikemudian hari memunculkan perang antar kelompok, maka berahirlah sistem hidup bersama. Dan mulailah manusia memasuki fase kedua yaitu sistem perbudakan. Dengan munculnya berbagaimacam kelompok, maka sistem perbudakan adalah lompatan besar yang mampu mendorong manusia maju kedepan. sistem ini biasanya dibangun diatas dua asas: perang dan agama. Perang diamainkan oleh para raja, sedangkan agama dimainkan oleh para rahib. Sedangkan masyarakat pada umumnya menjadi budak yang dikerjakan untuk menciptakan materi.

Namun di Eropa terjadi hubungan yang sadis terhadap kaum budak, seabagaimana dikenal dalam sejarah. Sehingga keadaan ini mengundang kaum budak untuk melakukan pemberontakan melawan kaum feodal. Walaupun pemberontakan mereka tidak mampu menggulingkan kaum feodalis,Namun dengan perkembangan materi dan ekonomi adanya penemuan alat pembajak dari besi–berakhirlah sistem perbudakan, karena ketika itu peran manusia digantikan oleh alat. Maka dari sini mulailah manusia memasuki fase ketiga yaitu sistem feodal atau Kapitalisme. Dengan penguasaan terhadap wilayah atau tanah, yang seluas-luasnya, manusia ketika itu mampu menciptakan materi/komoditi dengan jumlah yang sangat besar. Sehingga hal ini mampu mengantarkannya pada kemakmuran. Akan tetapi sistem ini menjadi neraka bagi para petani sebagai pengelola tanah. Nasib mereka terlantarkan, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mati karena kelaparan. Sementara itu para penguasa bisa menikmati hasil dari pertaniannya. Maka mulailah kaum petani memberontak melawan kaum feodalis untuk menuntut segala kelaliman dan kejahatan yang menimpa mereka. Walaupun pemberontakan itu tidak berarti apa-apa karena kuatnya posisi kaum feodalis yang berlindung dibalik benteng dan tentara. Namun dengan perkembangan materi dan ekonomi yang menemukan berbagai alat yang mampu menggantikan kerja tangan dan juga dengan meluasnya pemasaran perdagangan Eropa, maka sistem feodal runtuh. Dari sinilah mulai memasuki fase keempat, yaitu sistem kapitalis. Dibawah naungan sistem ini terjadinya kemajuan yang pesat dalam berbagai sisi kehidupan, khususnya bidang ilmu dan teknologi. Karena sistem ini akan selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk demi meraih untung yang banyak. Begitu juga memalalui sistem ini terbentuknya manajemen baru produksi dengan saling bekerjasamanya sekolompok individu didalam satu pekerjaan. Juga berkembangnya sarana informasi dan tranfortasi untuk mendistribusikan barang-barang produksi didalam maupun luar negri. Namun lagi-lagi kemajuan dan kemakmuran yang dicapai hanya dinikamati oleh sebagian kolompok saja, yaitu para pemilik modal. Bahkan realitas yang ada menunjukan yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Dengan kata lain sistem kapitalis telah membagi masyarakat kedalam dua kelompok, kaum borjuis dan proletar. Keduanya saling bertentangan memperebutkan kesejahteraan masing-masing. Oleh kerena itu Marx memandang bahwa harus ada sistem baru yang menggantikan sistem kapitalis dengan sistem yang tanpa kelompok dan mampu memperhatikan kesejahteraan kaum buruh. Sistem inilah yang ia sebut dengan sistem sosialis-dengan bentuk sempurnanya yaitu komunisme. Dan inilah fase kelima dari sejarah perjalanan hidup manusia. Sistem ekonomi komunis dibangun diatas landasan:

1. menutup hak kepemilikan individu,sehingga menghindari monopoli alat produksi

2. menghilangkan kelas dalam masyarakat.

3. memusatkan beban masyarakat kepada Negara.

4. persamaan dalam upah.

5. menerapkan semboyan “dari semua sesuai dengan kemampuannya,dan untuk semua sesuai dengan kebutuhannya”.

6. menghilangkan sistem pemerintahan dimasa depan dan sebagai gantinya mendirikan masyarakat sosialis yang saling bekerjasama.

 

source : Kaskus

Proletariat

•May 11, 2011 • Leave a Comment

PADA suatu hari di tahun 2010, seorang perempuan dari Utara membayar lebih dari satu juta dolar untuk membeli beberapa ekor anjing.

Dan kita tercengang: Cina bukan lagi Mao. Saya tak tahu masih adakah orang di sana yang ingat Mao Zedong yang pernah berbicara berapi-api tentang ”proletariat”, ”proletariat gelandangan”, dan ”semi-proletariat”, kelompok miskin yang akan membebaskan Cina dari ”keadaan setengah feodal dan setengah kolonial”.

Tampaknya kini yang membebaskan—atau yang menjerat?—adalah uang dan hasrat, dan dengan itu banyak batas diterobos. Perempuan dari Utara itu, seperti ditulis China Daily, pada hari itu mengirimkan 30 mobil Mercedes-Benz ke bandara untuk menjemput hewan yang dipesannya.

Ia pasti salah seorang dari 835.000 orang miliarwan yang ada di Republik Rakyat yang berpenduduk sekitar 1.330.000.000 ini. Ia pasti bagian dari 0,06 persen warga yang hidup berkelimpahan dan tak merasa berdosa atau rikuh di negeri yang setengah abad yang lalu diguncang ”Revolusi Kebudayaan Proletar” itu.

Setengah abad yang lalu itu para pengikut Mao yang militan bahkan siap membunuh seekor babi yang dimiliki tetangga dengan granat; babi itu tanda kelas ”borjuis”. Pada awal abad ke-21 sekarang orang berduit membayar dengan harga mahal anjing jenis Mastiff Tibet.

Walhasil, kita tak pernah paham benar bahwa Cina masih menganggap diri ”komunis” tapi hidup dengan ketimpangan sosial yang demikian tajam.

Tentu harus dicatat, indeks Gini, yang menunjukkan ketimpangan itu, di Cina sudah mulai menurun. Kini angkanya sekitar 40,8. Tetapi dibandingkan dengan itu, Indonesia sedikit lebih baik: 39,4. Tak meratanya pembagian kekayaan di Cina bahkan kurang-lebih sama dengan keadaan di negeri kapitalis yang paling timpang, yakni Amerika Serikat, dan jauh lebih buruk ketimbang Inggris, yang mencatat koefisien Gini 36.

Agaknya bayang-bayang Marx tak pernah berkelibat lagi di Mausoleum Mao di Beijing. Marx menganggap milik privat (anjing Mastiff, mobil Mercedes-Benz, babi kurus, atau sepetak tanah) sebagai sumber keterasingan manusia dari proses kerja. Ia pernah mengumandangkan bahwa justru kaum buruh—yang tak punya apa-apa, kecuali ”rantai yang membelenggunya”—yang akan jadi pelopor penggerak ke masa depan yang bebas dari keterasingan. Tapi di Cina kini Marxisme telah jadi benda museum prasejarah. Dan kita tak tahu lagi di mana pula mereka, proletariat.

Sejak mula sebenarnya ”proletariat” memang sebuah kelas sosial yang ganjil di Cina. Dalam sebuah tulisan pada 1926, ”Analisis Kelas dalam Masyarakat Cina”, Mao mengakui, proletariat hanya berjumlah dua juta. Buruh industri itu terutama bekerja di kereta api, pertambangan, pengangkutan laut, tekstil, dan pembuatan kapal, ”dan sejumlah yang sangat besar di antaranya diperbudak dalam perusahaan modal asing”. Tapi, sebagaimana layaknya seorang Marxis sejati, Mao percaya, kelas buruh ini ”yang paling progresif” pantas jadi ”kekuatan memimpin dalam gerakan revolusioner”.

Sebab, berbeda dengan kalangan lain, buruh industri tinggal dan bekerja memusat, di sekitar lokasi yang sama. Lebih penting lagi, tulis Mao, ”mereka telah kehilangan alat produksinya, tinggal punya dua tangan saja…”.

Tapi persoalan yang timbul segera setelah itu: bagaimana kelas buruh, dalam posisi bukan mayoritas, dapat menggunakan cara pandang mereka yang menurut Marxisme bersifat istimewa, untuk jadi standar masyarakat umumnya?

Kita tahu, Mao—setelah Lenin—menganggap penting bukan hanya buruh, tapi juga peran petani untuk menggerakkan Revolusi. Mao tak akan mengatakan orang-orang pedalaman itu bagian dari apa yang disebut Marx sebagai ”kedunguan dusun”. Tapi para petani, juga yang paling tak berpunya, selalu ingin punya tanah. Mereka bagaimanapun tak ingin merayakan heroisme kaum yang tak punya apa-apa.

Hasrat itu, ”borjuis” sifatnya, pada akhirnya memang tak teredam. Kita tak bisa mengatakan bahwa kodrat manusia adalah ingin empunya dan makin rakus, tapi Marx punya kesalahan ketika ia menganggap milik pribadi dengan sendirinya penyebab alienasi manusia, ketika manusia mengutamakan apa yang jadi miliknya dan tak lagi jadi tuan dari benda dan kerja.

Dalam perkembangan politik Cina, alienasi justru berlangsung ketika manusia merunduk di hadapan buah tangannya sendiri yang lain—kali ini bukan milik diri sendiri, melainkan justru sesuatu yang hampir sepenuhnya sosial: tata simbolik—kata, slogan, dan doktrin. Juga organisasi, baik dalam bentuk kontrol kehidupan sehari-hari dari unit tetangga maupun, lebih agung lagi, Partai Komunis.

Di Cina, kediktatoran proletariat berbeda dari yang dibayangkan Marx. Ketika ia menyusun teori sejarahnya, Marx memperhitungkan bahwa pada suatu tahap perkembangan kapitalisme, proletariat akan jadi golongan yang melimpah. Borjuis kecil akan dicaplok borjuis besar dan, seperti kaum buruh, akhirnya tak punya apa-apa lagi. Yang papa jadi mayoritas.

Tapi, dengan jumlah kaum buruh industri yang begitu kecil di tengah kaum yang lain, yang terjadi adalah kediktatoran yang cemas. Ia harus defensif dan ofensif sekaligus. Ia harus meyakinkan. Ia harus ketat, dalam manajemen tubuh dan pikiran orang ramai.

Akhirnya ia jebol juga. Partai boleh tetap berkuasa, tetapi etos proletariatnya telah dihapus. Pembebasan ternyata bukan datang dari mereka yang tak punya apa-apa, tapi dari punya dan keinginan untuk punya.

Bersama itu, segala yang ganjil dan gila-gilaan pun bisa terjadi, juga sebuah alienasi lain: 30 mobil Mercedes-Benz untuk menjemput anjing….

Mungkin sesekali kita perlu bertanya, bagaimana dengan milik dan bukan-milik manusia bisa bebas.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 03 Mei 2010~

Log Out

•February 26, 2011 • Leave a Comment

Terima kasih dan Mohon Maaf kepada :

Pimpinan Citra Group Lamongan,

Bpk Debby, Bu Retno.

Manajemen Citra Hakalink,

Didik Habibullah

Manajemen Citra Photo dan staff,

Mbah Jono, Irwan, Udin, Ujan, mbak Emi, mbak Enik, dll.

Manajemen Citra Travel dan staff.

Mas Aan, mas Soni, Dani, mbak Atik, dll.

Kawan di Citra TV.

Pak Andik, Febri, Novi, dll.

Juga tdk lupa semua kawan dri jajaran Citra Group yang gak kesebut namanya yang pastinya banyak.

Terakhir, mbak Tik yang selalu menyuplai suplemen dikala Lapar.

Terima kasih atas kepercayaan yg diberikan kpd saya,

Akan tetapi ada beberapa Kendala diluar teknis yg mengharuskan saya untuk off dari perusahaan ini.

dan semoga semuanya bisa saling mengisi.

Dan bisa menjadi pelajaran bagi kita semua

The Answer Lies Within

•January 10, 2011 • Leave a Comment

[Music: Dream Theater, Lyrics: John Petrucci]

Look around,
Where do you belong
Don’t be afraid,
You are not the only one

Don’t let the day go by,
Don’t let it end
Don’t let a day go by in doubt,
The answer lies within

Life is short, so learn from your mistakes
And stand behind, the choices that you made
Face each day with both eyes open wide
And try to give, don’t keep it all inside

Don’t let the day go by
Don’t let it end
Don’t let a day go by, in doubt,
The answer lies within

You’ve got the future on your side
You’ve gonna be fine now
I know whatever you decide
You are gonna shine!!! (shinee)

Don’t let the day go by
Don’t let it end
Don’t let a day go by, in doubt
You re ready to begin

Don’t let a day go by in doubt
The answer lies within

 

download MP3 nya